FAHMI NATIGOR NASUTION
Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara
1. Pendahuluan
Perkembangan Teknologi Informasi (TI)
yang sangat pesat dewasa ini memberikan banyak kemudahan pada berbagai aspek
kegiatan bisnis (Cushing,1993; Murdick.et.al,1997; Mc.Leod.R.J,1997;
Grace,2000; Nur Indriantoro,2000; Baridwan, 2000 dalam Halim, 2000; Hall,2001).
Peranan TI dalam berbagai aspek kegiatan bisnis dapat dipahami karena sebagai
sebuah teknologi yang menitik beratkan pada pengaturan sistem informasi dengan
penggunaan komputer, TI dapat memenuhi kebutuhan informasi dunia bisnis dengan
sangat cepat, tepat waktu, relevan, dan akurat (Wilkinson dan Cerullo,1997).
Menurut Mc. Farlan (1983);
Rockart (1998) dalam Nur Indriantoro (2000); dan Syam (1999), penerapan TI bagi
perusahaan mempunyai peranan penting dan dapat menjadi pusat strategi bisnis
untuk memperoleh keunggulan bersaing. Selanjutnya, Downing (1993);Trisnawati
(1998);Syam (1999) juga menyebutkan bahwa saat ini TI sudah menjadi kebutuhan
dasar bagi setiap perusahaan terutama dalam menjalankan segala aspek aktifitas
organisasi. De Lone (1981); Morgan (1996) dalam Syam (1999); Martin dan Merle.P
(1995), menyatakan bahwa penggunaan TI bagi suatu perusahaan ditentukan oleh
banyak faktor, salah satu diantaranya adalah karakteristik pengguna TI.
Perbedaan karakteristik pengguna TI dipengaruhi juga oleh banyak
faktor , salah satunya adalah aspek prilaku. Prilaku ini dipengaruhi oleh
persepsi pengguna terhadap TI yang secara teoritis dideskripsikan oleh para
ahli pengembang TI sebagai pengguna dan pengaruhnya terhadap penggunaan
komputer (Davis,et.al 1989; Ferguson, 1991). Berdasarkan aspek keprilakuan
pengguna (user) yang juga turut mempengaruhi persepsi dan sikap dalam
menerima penggunaan TI.
2. Aspek Keprilakuan (Behavioral
Aspect) dalam Penerapan Teknologi
Informasi
Menurut Bodnar dan Hopwood (1995) ada tiga hal yang berkaitan
dengan penerapan TI berbasis komputer yaitu ; (a) Perangkat keras (hardware);
(b) Perangkat lunak (software), dan; (c) Pengguna (brainware). Ketiganya
elemen tersebut saling berinteraksi dan dihubungkan dengan suatu perangkat
masukan keluaran (input-output media), yang sesuai dengan fungsinya
masing-masing. Perangkat keras (Hardware) adalah media yang digunakan
untuk memproses informasi. Perangkat lunak (software) yaitu sistem dan
aplikasi yang digunakan untuk memproses masukan (input) untuk menjadi
informasi, sedangkan pengguna (brainware) merupakan hal yang terpenting
karena fungsinya sebagai, pengembang hardware dan software, serta
sebagai pelaksanan (operator) masukan (input) dan sekaligus penerima
keluaran (output) sebagai pengguna sistem (user). Pengguna sistem
adalah manusia (man) yang secara psikologi memiliki suatu prilaku (behavior)
tertentu yang melekat pada dirinya, sehingga aspek keprilakuan dalam
konteks manusia sebagai pengguna (brainware) TI menjadi penting sebagai
faktor penentu pada setiap orang yang menjalakan TI.
Menurut Syam (1999), pertimbangan
perilaku ini perlu mendapat perhatian khusus dalam konteks penerapan TI.
Pendapat ini sejalan dengan Sung (1987) dalam Trisna (1998) yang menyatakan
bahwa faktor-faktor teknis, prilaku, situasi dan personil pengguna TI perlu
dipertimbangkan sebelum TI diimplementasikan. Henry (1986) dalam Trisnawati
(1998) juga mengemukakan bahwa prilaku pengguna, dan personal sistem diperlukan
dalam pengembangan sistem, dan hal ini berkaitan dengan pemahaman dan cara
pandang pengguna sistem tersebut. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa
persepsi para personil (orang-orang) yang terlibat dalam implementasi sistem
akan berpengaruh pada akhir suatu sistem, apakah sistem itu berhasil atau
tidak, dapat diterima atau tidak, bermanfaat atau tidak jika diterapkan.
Sri
Astuti, (2001) berpendapat bahwa penggunaan teknologi informasi, pemanfaatan
informasi oleh individual, kelompok atau organisasi merupakan variabel inti
dalam riset sistem informasi, sebab sebelum digunakan pertama terlebih dahulu
dipastikan tentang penerimaan atau penolakan di gunakannya TI tersebut, hal ini
berkaitan dengan perilaku yang ada pada individu/organisasi yang menggunakan
teknologi komputer. Menurut Boodnar dan Hopwood (1995), pengembangan TI
memerlukan perencanaan dan implementasi yang hati-hati untuk menghindari adanya
penolakan terhadap sistem yang dikembangkan, dan ini sangat berhubungan dengan
perubahan prilaku secara individual dalam melaksanakan pekerjaannya. Lawrence
dan Low (1993) dalam Kusnadi (2001); Nur Indriantoro (2000); Jarvenva dan Ivees
(1991) memberikan sebuah contoh aspek partisipasi dan keterlibatan pengguna
sebagai salah satu perwujudan dari aspek keprilakuan yang penting diperhatikan
untuk menghindari penolakan (resistance) implementasi suatu sistem. Hal
ini sejalan dengan pendapat Sabherwal dan Elam (1995) yang menyatakan bahwa
Penerapan TI menimbulkan problematik dari berbagai faktor dan diantaranya
adalah faktor prilaku. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Guimares dan
Ramanujam (1996), Lee (1986), Strassman (1985) dalam Nur Indriantoro (2000),
menemukan bahwa penerapan TI dalam suatu organisasi mendorong terjadinya
perubahan revolusioner terhadap prilaku individu dalam bekerja, dan dalam
konteks penggunaan PC, kemungkinan seseorang mempunyai keyakinan bahwa
penggunaan komputer akan memberikan manfaat bagi dirinya dan pekerjaannya (Nur
Indriantoro,2000).
Thompson et.al (1991) mengemukakan
pentingnya aspek prilaku dalam penerapan penggunaan PC. Hal tersebut
berdasarkan hasil penelitian empiris yang menguji pengaruh prilaku individual
pengguna terhadap penggunaan Personal Computer (PC) dengan landasan
teori yang diusulkan oleh Triandis (1971; 1980) dalam Nur Indriantoro (2000).
Lebih jauh Tompson .et.al (1991) menjelaskan tentang faktor sikap (attitude)
sebagai salah satu aspek yang mempengaruhi prilaku individual. Sikap
seseorang terdiri atas komponen Kognisi (cognitive), Afeksi (affective),
dan komponen komponen yang berkaitan dengan prilaku (behavioral components).
Sikap pengguna terhadap komputer dapat pula ditunjukkan dengan sikap optimistik
pengguna bahwa komputer sangat membantu dan bermanfaat untuk mengatasi masalah
atau pekerjaannya (Triandis, 1971) dalam Nur Indriantoro (2000).
Berdasarkan
beberapa uraian teoritis dan hasil penelitian empiris yang telah di uraikan
diatas, dapat di pahami bahwa aspek prilaku dalam penerapan TI merupakan salah
satu aspek yang penting untuk di perhatikan, karena berhubungan langsung dengan
pengguna (user), sebab interaksi antara pengguna dengan perangkat
komputer yang di gunakan sangat di pengaruhi oleh persepsi, sikap, afeksi
sebagai aspek keprilakuan yang melekat pada diri manusia sebagai user.
Kesimpulan yang dapat ditarik dari uraian-uraian diatas adalah penerapan suatu
sistem dan teknologi informasi tidak terlepas dari aspek prilaku karena
pengembangan sistem terkait dengan masalah individu dan organisasional sebagai
pengguna sistem tersebut, sehingga sistem yang dikembangkan harus berorientasi
kepada penggunanya.
3. Tinjauan Teoritis Model Davis. F.D
(1989)
Beberapa model telah dibangun untuk
menganalisis dan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya
penggunaan teknologi komputer, diantaranya yang tercatat dalam berbagai
literatur dan referensi hasil riset dibidang teknologi informasi adalah seperti
Theory of Reasoned Action (TRA), Theory of Planned Behavior (TPB), dan Technology
Acceptance Model (TAM) (Mhd.Jantan.et.al,2001). Model TAM yang dikembangkan
oleh Davis F.D (1989) merupakan salah satu model yang paling banyak digunakan
dalam penelitian TI (lihat Iqbaria.et.al,1997; Adam.et.al,1992;
Mhd.Jantan.et.al.2001; Chin dan Todd,1995), karena model ini lebih sederhana,
dan mudah diterapkan (Iqbaria,1995) dalam Sarana (2000).
Model TAM sebenarnya diadopsi dari model
The Theory of Reasoned Action (TRA), yaitu teori tindakan yang beralasan
yang dikembangkan oleh Fishbe dan Ajzen (1975), dengan satu premis bahwa reaksi
dan persepsi seseorang terhadap sesuatu hal, akan menentukan sikap dan prilaku
orang tersebut. Teori ini membuat model prilaku seseorang sebagai suatu fungsi
dari tujuan prilaku . Tujuan prilaku di tentukan oleh sikap atas prilaku
tersebut (Sarana,2000). Dengan demikian dapat di pahami reaksi dan persepsi
pengguna TI akan mempengaruhi sikapnya dalam penerimaan penggunaan TI, yaitu
salah satu faktor yang dapat mempengaruhi adalah persepsi pengguna atas
kemanfaatan dan kemudahan penggunaan TI sebagai suatu tindakan yang beralasan
dalam konteks penggunaa TI, sehingga alasan seseorang dalam melihat manfaat dan
kemudahan penggunaan TI menjadikan tindakan orang tersebut dapat menerima
penggunaan TI. Model TAM yang dikembangkan dari teori psikologis menjelaskan
prilaku pengguna komputer, yaitu berlandaskan pada kepercayaan (belief),
sikap (attitude), intensitas (intention) dan hubungan prilaku
pengguna (user behavior relationship). Tujuan model ini untuk
menjelaskan faktor-faktor utama dari prilaku pengguna TI tehadap penerimaan
penggunaan TI itu sendiri. Model TAM secara lebih terperinci menjelaskan
penerimaan TI dengan dimensi-dimensi tertentu yang dapat mempengaruhi dengan
mudah diterimanya TI oleh sipengguna (user). Model ini menempatkan
faktor sikap dari tiap-tiap prilaku pengguna dengan dua variabel yaitu
kemanfaatan (usefulness) dan kemudahan penggunaan (ease of use).
Secara empiris model ini telah terbukti memberikan gambaran pada aspek prilaku
pengguna PC, dimana banyak pengguna PC dapat dengan mudah menerima TI karena
sesuai dengan apa yang diinginkannya (Iqbaria,et.al,1997).
Kedua
variabel model TAM yaitu kemanfaataan (usefulness) dan kemudahan
penggunaan (ease of use) dapat menjelaskan aspek keprilakuan pengguna
(Davis.et.al,1989 dalam Iqbaria.et.al, 1997). Kesimpulannya adalah Model TAM
dapat menjelaskan bahwa persepsi pengguna akan menentukan sikapnya dalam
penerimaan penggunaan TI. Model ini secara lebih jelas menggambarkan bahwa
penerimaan penggunaan TI dipengaruhi oleh kemanfaatan (usefulness) dan
kemudahan penggunaan (ease of use). Keduanya memiliki determinan yang
tinggi dan validitas yang sudah teruji secara empiris (Chau,1996; Davis,1989;
dalam Jantan , 2001). Model TAM yang dikembangkan oleh Davis.F.D (1989) juga
mendapat perluasan dari para peneliti seperti Iqbaria (1994;1997); Ferguson
(1991) dan Chin and Todd (1995). Chin and Todd (1995) membagi dua faktor pada
variabel kemanfaatan yaitu; (1) kemanfaatan dan ,(2) efektifitas dengan
masing-masing dimensinya sendiri. Ferguson (1991) menunjukkan hasil penelitian
bahwa terdapat indikasi variabel hasil kerja dipengaruhi oleh penggunaan
komputer mikro dan sikap pengguna komputer tersebut dipengaruhi oleh
kemanfaatan (usefulness) dan kemudahan (ease of use) penggunaan.
3.1. Penerimaan (acceptance) penggunaan
TI
Iqbaria (1994), Nelson (1996), Luthans
(1995) juga menyebutkan bahwa secara individu maupun kolektif penerimaan
penggunaan dapat dijelaskan dari variasi penggunaan suatu sistem, karena
diyakini penggunaan suatu sistem yang berbasis TI dapat mengembangkan kinerja
individu atau kinerja organisasi.
Beberapa penelitian lain telah
mengidentifikasi indikator penerimaan TI, dimana secara umum diketahui bahwa
penerimaan TI dilihat dari penggunaan sistem dan frekuensi pengunaan komputer
(DeLone,1981; Soh.et.al, 1992) dan ada juga yang melihat dari aspek kepuasan
pengguna (Montazemi,1988; Raymond,1985,1990; Soh.et.al,1992; Thong.et.al,1992
dalam Iqbaria.et.al,1997). Penelitian yang dilakukan oleh Adam.et.al (1992);
Davis.et.al (1989); Szajna (1996), Thompson.et.al (1991) dalam Iqbaria.et.al
(1997) menjadikan penggunaan sistem sebagai indikator utama penerimaan
penggunaa
3.2. Kemanfaatan yang dipersepsikan (Perceived
usefulness)
Davis.F.D (1989); Adam.et.al (1992)
mendefinisikan kemanfaatan (usefulness) sebagai suatu tingkatan dimana
seseorang percaya bahwa penggunaan suatu subyek tertentu akan dapat
meningkatkan prestasi kerja orang tersebut. Berdasarkan definisi tersebut dapat
diartikan bahwa kemanfaatan dari penggunaan komputer dapat meningkatkan
kinerja, prestasi kerja orang yang menggunakannya. Menurut Thompson.et.al
(1991;1994) kemanfaatan TI merupakan manfaat yang diharapkan oleh pengguna TI
dalam melaksanakan tugasnya. Pengukuran kemanfaatan tersebut berdasarkan
frekuensi penggunaan dan diversitas/keragaman aplikasi yang dijalankan.
Thompson (1991) juga menyebutkan bahwa individu akan menggunakan TI jika
mengetahui manfaat positif atas penggunaannya. Chin dan Todd (1995) memberikan
beberapa dimensi tentang kemanfaatan TI. Menurut Chin dan Todd (1995)
kemanfaatan dapat dibagi kedalam dua kategori, yaitu (1) Kemanfaatan dengan
estimasi satu faktor, dan (2) kemanfaatan dengan estimasi dua faktor
(kemanfaatan dan efektifitas). Kemanfaatan dengan estimasi satu faktor meliputi
dimensi;
1. Menjadikan pekerjaan lebih mudah (makes
job easier)
2. Bermanfaat (usefull)
3. Menambah
produktifitas (Increase productivity)
4. Mempertinggi
efektifitas (enchance efectiveness)
5. Mengembangkan
kinerja pekerjaan (improve job performance)
Kemanfaatan dengan estimasi dua faktor
oleh Chin dan Todd (1995) dibagi menjadi dua kategori lagi yaitu kemanfaatan
dan efektifitas, dengan dimensi-dimensi masing-masing yang dikelompokkan
sebagai berikut:
1. Kemanfaatan
meliputi dimensi : (1) menjadikan pekerjaan lebih mudah (makes job easier),
(2) Bermanfaat (usefull), (3) Menambah produktifitas (Increase
productivity).
2. Efektifitas
meliputi dimensi : (1) mempertinggi efektifitas (enchance my effectiveness),
(2) mengembangkan kinerja pekerjaan (improve my job performance).
Berdasarkan beberapa definisi dan telah
literatur diatas dapat disimpulkan bahwa kemanfaatan penggunaan TI dapat
diketahui dari kepercayaan pengguna TI dalam memutuskan penerimaan TI, dengan
satu kepercayaan bahwa penggunaan TI tersebut memberikan kontribusi positif
bagi penggunanya. Seseorang mempercayai dan merasakan dengan menggunakan
komputer sangat membantu dan mempertinggi prestasi kerja yang akan dicapainya,
atau dengan kata lain orang tersebut mempercayai penggunaan TI telah memberikan
manfaat terhadap pekerjaan dan pencapaian prestasi kerjanya. Kemanfaatan
penggunaan TI tersebut menjadi sebuah variabel tersendiri yang diteliti oleh
para peneliti (Lihat Iqbaria,1994;1997; Adam.et.al,1992; Davis, 1989; Todd,
1991; Sri Astuti,2001; Nur Indriantoro,2000; Mhd.Jantan.et.al,2001), khususnya
untuk melihat penerimaan penggunaan TI bagi organisasi perusahaan.
Iqbaria
(1994) dalam studinya menguji apakah penerimaan penggunaan mikro komputer
dipengaruhi oleh kemanfaatan yang diharapkan oleh sipengguna atau karena
tekanan sosial. Tekanan sosial yang dimaksudkan seperti tekanan dari seorang
supervisor kepada bawahannya untuk menggunakan TI. Temuan studi Iqbaria (1994)
membuktikan bahwa TI digunakan bukan mutlak karena adanya tekanan sosial,
sehingga dapat disimpulkan penerimaan penggunaan TI tersebut dipengaruhi oleh
kemanfaatan penggunaan penggunaan TI. Sri Astuti (2001) menemukan bahwa
diversitas kemanfaatan TI berpengaruh signifikan terhadap kepuasan pengguna.
Handayani (2001) menemukan kemanfaatan tidak berhubungan dengan lamanya
penggunaan komputer, sehingga dapat disimpulkan bahwa kemanfaatan merupakan
variabel yang independen terhadap penggunaan TI.
3.3. Kemudahan Penggunaan yang
dipersepsikan (Perceived ease of use)
Davis, F.D (1989) mendefinisikan
kemudahan penggunaan (ease of use) sebagai suatu tingkatan dimana
seseorang percaya bahwa komputer dapat dengan mudah dipahami. Menurut Goodwin
(1987); Silver (1988); dalam Adam.et.al (1992) ,intensitas penggunaan dan
interaksi antara pengguna (user) dengan sistem juga dapat menunjukkan
kemudahan penggunaan. Sistem yang lebih sering digunakan menunjukkan bahwa
sistem tersebut lebih dikenal, lebih mudah dioperasikan dan lebih mudah
digunakan oleh penggunanya.
Berdasarkan definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa kemudahan penggunaan akan mengurangi usaha (baik waktu dan
tenaga) seseorang didalam mempelajari komputer. Perbandingan kemudahan tersebut
memberikan indikasi bahwa orang yang menggunakan TI bekerja lebih mudah
dibandingkan dengan orang yang bekerja tanpa menggunakan TI (secara manual).
Pengguna TI mempercayai bahwa TI yang lebih fleksibel, mudah dipahami dan mudah
pengoperasiannya (compartible) sebagai karakteristik kemudahan
penggunaan. Davis.F.D (1989) memberikan beberapa indikator kemudahan penggunaan
TI antara lain meliputi; (1) Komputer sangat mudah dipelajari, (2) Komputer
mengerjakan dengan mudah apa yang diinginkan oleh pengguna (3) Keterampilan
pengguna bertambah dengan menggunakan komputer (4) Komputer sangat mudah untuk
dioperasikan. Untuk variabel kemudahan pemakaian, Iqbaria (1994) juga telah
menguji dalam studinya apakah penerimaan penggunaan mikro komputer dipengaruhi
oleh kemudahan penggunaan yang diharapkan oleh sipengguna atau karena tekanan
sosial. Temuan studi Iqbaria (1994) membuktikan bahwa TI digunakan bukan mutlak
karena adanya tekanan sosial, sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan TI
bukan karena adanya unsur tekanan, tetapi karena memang mudah digunakan.
Berdasarkan telaah teoritis dan
hasil-hasil pengujian empiris diatas, dapat disimpulkan bahwa penerimaan
penggunaan TI juga turut dipengaruhi oleh kemudahan penggunaan TI, ini
merupakan refleksi psikologis pengguna yang lebih bersikap terbuka terhadap
sesuatu yang sesuai dengan apa yang dipahaminya dengan mudah. Kemudahan
tersebut dapat mendorong seseorang untuk menerima menggunakan TI. Model
Teoritis Davis 1989 dapat digambarkan pada gambar 1 berikut ini :
4. Tinjauan
Teoritis Model Iqbaria (1994)
Iqbaria
(1994) juga mengembangkan suatu model untuk meprediksi penggunaan TI. Model
Iqbaria ini menguji dampak manfaat dan norma social terhadap penerimaan TI.
Teori yang mendasari model ini dari Vroom (1964) dan juga dimodifikasi dari
Fisben dan Azjben (1975) serta tetap mengacu pada model yang dikembangkan oleh
Davis. F.D (1989). Beberapa faktor yang diajukan oleh Iqbaria meliputi
keinginan memakai komputer, keahlian, dukungan orgaisasi , kebijakan, manfaat
untuk organisasi, kecemasan karena pemakaian TI memiliki dampak langsung atau
dampak tidak langsung terhadap penerimaan teknologi komputer. Komponen penting
dari model Iqbaria (1994), meliputi pengaruh leingkungan sosial terhadap prilaku,
hal ini mengarah pada subjektifitas seseorang,atau opini pihak lainyang
mempengaruhi individu. Kemudian terdapat juga aspek kepercayaan normative yang
dapat melihat seseorang dalam penggunaan computer.
4.1. Faktor-faktor interen dan eksteren
organisasi Perusahaan
Menurut Davis.et.al (1989); DeLone (1988); Raymond
(1988);Thong.etal. (1994); Yap.et.al (1992) dalam Jantan (2001) dan Iqbaria
(1997), faktor-faktor interen dan eksteren organisasi berpengaruh terhadap
penerimaan penggunaan TI. Iqbaria et.al (1997) secara mendetail mengemukakan
faktor-faktor tersebut meliputi;
1. Dukungan pengetahuan komputer secara
interen organisasi (Internal support), merupakan dukungan pengetahuan
teknis yang dimiliki secara individual maupun kelompok mengenai pengetahuan
komputer
2. Pengalaman pelatihan interen
organisasi (internal training), merupakan sejumlah pelatihan yang sudah
pernah diperoleh pemakai (user) dari pemakai lainnya (other user) atau
dari spesialisasi komputer yang ada didalam organisasi perusahaan
3. Dukungan Manajemen (Management
Support), merupakan tingkat dukungan secara umum yang diberikan oleh Top
Manajemen dalam perusahaan
4. Pengetahuan komputer secara ekteren
organisasi (External support) , merupakan dukungan pengerahuan teknis
dari pihak luar yang dimiliki secara individual maupun kelompok mengenai
pengetahuan komputer untuk perusahaan kecil.
5. Pengalaman pelatihan eksteren
organisasi (external training), merupakan sejumlah pelatihan yang sudah
pernah diperoleh pemakai (user) dari pemakai lainnya (other user) atau
spesialisasi komputer dari pihak luar perusahaan
Berdasarkan uraian diatas sangat jelas
diketahui bahwa dalam penggunaan TI juga dipengaruhi banyak faktor. Kemudian
faktor-faktor tersebut turut dianalisis menjadi variabel-varibel yang dapat
menjelaskan penggunaan teknologi informasi. Raymond (1990) berpendapat bahwa
tingkat dukungan terhadap fungsi sistim informasi menjadi satu permasalahan
krusial dalam penerimaan PC diperusahaan kecil. Perusahaan kecil selama ini
memiliki kesenjangan sumberdaya dan pengalaman teknis dalam mengembangkan pusat
sistim informasi, atau dukungan terhadap fungsi-fungsi PC. Igbaria (1994,1997)
menemukan bahwa dukungan Manajemen secara signifikan mempengaruhi diterimanya
penggunaan PC/ Mikro Komputer. Iqbaria (1994) dalam studinya menguji apakah
penerimaan penggunaan mikro komputer dipengaruhi oleh kemanfaatan yang
diharapkan oleh sipemakai atau karena tekanan sosial. Tekanan sosial yang
dimaksudkan seperti tekanan dari seorang supervisor kepada bawahannya untuk
menggunakan TI. Temuan studi Iqbaria (1994) membutkitkan bahwa TI digunakan
bukan mutlak karena adanya tekanan sosial, sehingga dapat dismpulkan bahwa
faktor-faktor interen dan eksteren perusahaan juga turut menentukan penerimaan
penggunaan PC diperusahaan. Model TAM mengekspektasikan bahwa faktor interen
dan ekstern oraganisasi akan berpengaruh terhadap kemanfaatan dan kemudahan
pemakaian penggunaan PC (Igbaria.et.al,1997).
Model Iqbaria dapat digambarkan dalam
gambar 2 dan 3 sebagai berikut :
5. KESIMPULAN
Pesatnya perkembangan dan penggunaan
teknologi informasi telah mengundang banyak peneliti untuk melakukan penelitian
dibidang ini, karena penelitian dibidang TI setidaknya menyediakan 3 bahasan
utama yang dapat dijadikan topik penelitian yaitu (a) perangkat keras (hardware),
(b) perangkat lunak (software) dan (3) pengguna TI (user).
Penelitian yang menitik beratkan pada bagian pengguna (user) teknologi
informasi banyak didasarkan pada aspek-aspek keprilakuan. Pembahasan aspek
keprilakuan secara teoritis didasari oleh teori-teori psikologis dan
sosiologis, yang banyak menjelaskan tentang persepsi (perceived), sikap
(attituted), kepercayaan (belief).
Model TAM yang diuraikan dalam makalah
ini memberikan gambaran pada aspek keprilakuan pengguna PC yang juga didasarkan
pada teori psikologis, dimana banyak pengguna PC dapat dengan mudah menerima TI
jika memiliki karakteristik sesuai dengan apa yang diinginkannya. Secara
teoritis, pengadopsian teori-teori keprilakuan dalam studi-studi TI memberikan
akselerasi kajian dibidang TI sehingga inovasi-inovasi pengembangan TI dan
sistim informasi mengarah pada kebutuhan pengguna (user) dengan
kemudahan penggunaannya. Dengan demikian secara teoritis dapat diuraikan bahwa
implikasi penerapan TI adalah pada aspek keprilakuan yang berkaitan dengan
pengembangan TI. Implikasi ini didasari pada argumentasi bahwa interaksi antara
ketiga unsur dalam pengembangan TI tidak dapat dihindari, yaitu interaksi antara
perangkat keras, perangkat lunak dan pengguna, artinya aspek prilaku itu memang
penting untuk diperhatikan.
ANALISIS
1. Rangkuman
Isi Paper
Teknologi Informasi (TI) sudah menjadi kebutuhan dalam setiap pekerjaan
dan kebutuhan setiap kalangan. Dalam paper ini menyebutkan bahwa karakteristik
pengguna TI salah satunya adalah aspek perilaku, persepsi dan sikap dalam
menerima penggunaan TI.
Dalam paper
ini terdapat tiga hal yang berkaitan dengan penerapan TI berbasis computer
yaitu: perangkat keras (hardware), perangkat
lunak (software), dan pengguna (brainware). Ketiga elemen tersebut
saling berinteraksi dan dihubungkan dengan suatu perangkat keluaran-masukan (output-input media). Perangkat keras
digunakan untuk memproses informasi, perangkat lunak untuk mengatur sistem
aplikasi yang digunakan sedangkan pengguna sebagai pengembang hardware dan software, alat penerima masukan dan keluaran sebagai pengguna
sistem (user). Faktor sikap (Attitude) sebagai salah satu aspek yang
mempengaruhi perilaku individual.
Beberapa model telah dibangun untuk menganalisis dan memahami
faktor-faktor yang mempengaruhi diterimanya penggunaan terhadap komputer,
diantaranya yang terdapat dalam berbagai literatur dan referensi hasil riset
dibidang teknologi informasi adalah seperti Theory
of Reasoned Action (TRA), dan Technology
Acceptance Model (TAM). TAM merupakan salah satu model yang paling banyak
digunakan dalam penelitian TI karena model ini lebih sederhana dan mudah
diterapkan.
Kemudahan penggunaan
akan mengurangi usaha (baik waktu dan tenaga) seseorang didalam mempelajari
komputer. Perbandingan kemudahan tersebut memberikan indikasi bahwa orang yang
menggunakan TI bekerja lebih mudah dibandingkan dengan orang yang bekerja tanpa
menggunakan TI (secara manual). Pengguna TI mempercayai bahwa TI yang lebih
fleksibel, mudah dipahami dan mudah pengoperasiannya (compartible) sebagai
karakteristik kemudahan penggunaan.
Iqbaria (1994) juga
mengembangkan suatu model untuk meprediksi penggunaan TI. Model Iqbaria ini
menguji dampak manfaat dan norma social terhadap penerimaan TI. Igbaria
(1994,1997) menemukan bahwa dukungan Manajemen secara signifikan mempengaruhi
diterimanya penggunaan PC/ Mikro Komputer. Iqbaria (1994) dalam studinya
menguji apakah penerimaan penggunaan mikro komputer dipengaruhi oleh
kemanfaatan yang diharapkan oleh sipemakai atau karena tekanan sosial. Tekanan
sosial yang dimaksudkan seperti tekanan dari seorang supervisor kepada
bawahannya untuk menggunakan TI.
Berdasarkan analisis
diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan komputer atau sistem informasi sangat
dibutuhkan dalam setiap pekerjaan sehari-hari, terutama didalam perusahaan yang
tidak bisa terlepas dari sistem informasi dalam menjalankan tugas-tugas di
perusahaan. Selain itu terdapat tiga
hal yang berkaitan dengan penerapan TI berbasis computer yaitu: perangkat keras
(hardware), perangkat lunak (software), dan pengguna (brainware). Ketiga elemen tersebut
saling berinteraksi dan dihubungkan dengan suatu perangkat keluaran-masukan (output-input media). terdapat dalam
berbagai literatur dan referensi hasil riset dibidang teknologi informasi
adalah seperti Theory of Reasoned Action (TRA),
dan Technology Acceptance Model (TAM).
2. Kelebihan
a.
Penulis
menjelaskan secara lengkap bagaimana seorang dapat menjadi pengguna (user) TI karena ada aspek keprilakuan
yang mempengaruhi seseorang tersebut.
b.
Penulis juga
mendeskripsikan bahwa dua hal yang mendukung untuk penerimaan pengguna TI yaitu
ketika seseorang telah merasakan kemudahan dalam pemanfaatannya sehingga dapat
merasakan manfaat nyata dari penggunaan TI tersebut.
c. Ada tiga hal yang mempengaruhi sikap user yang juga berdampak pada penggunaan
TI yaitu kognitif, afektif, dan komponen perilaku yang dimiliki.
3.
Kekurangan
a.
Dalam faktor
interen dan eksteren organisasi perusahaan penulis hanya menjelaskan satu
faktor.
b.
Kurang
menjelaskan dampak yang mungkin saja dapat terjadi ketika perilaku user yang salah dalam pengimplikasian
penggunaan TI.
c.
Sesuai TAM,
seseorang akan menerima TI jika telah merasakan kemudahan dan manfaat dari
penggunaannya maka sikap seseorang dalam pnerimaan TI akan berubah, bagaimana
jika orang tersebut tidak dapat merasakan kemudahannya namun tetap membutuhkan
manfaat dari hasial kerja TI?
DAFTAR
REFERENSI
Nasution,
F.N. (2004). Penggunaan teknologi informasi berdasarkan aspek perilaku
(behavioral aspect). Akutansi Fahmi (pp. 1-10). Sumatra Utara: USU digital library


Tidak ada komentar:
Posting Komentar