Ini adalah 3 pekerjaan yang saya sukai beserta job desk nya .... cekidot hehehe
1. Psikolog
Menjadi psikolog merupakan sebuah hal yang lazim digeluti oleh orang yang memang mendalami ilmu psikologi. Seseorang yang memiliki berbagai masalah dapat berkonsultasi dengan para psikolog.
Lalu, apakah psikolog itu? Apa yang mereka lakukan sebagai bagian dari pekerjaan mereka? Yuk, kita pelajari fakta menarik dan informasi untuk mempelajari tentang karier di bidang psikolog, seperti dilansir dari Science Kidz, Rabu (26/11/2014).
- Psikologi melibatkan studi tentang pikiran.
- Para ahli yang mengkhususkan diri dalam berbagai bentuk psikologi dikenal sebagai psikolog.
- Pelajaran penting yang berkaitan dengan psikologi terdiri dari bahasa Inggris, kimia, biologi, matematika, dan statistik.
- Psikolog biasanya memiliki kesabaran, kasih sayang, pemahaman yang baik tentang orang dan keterampilan komunikasi yang baik.
- Kebanyakan peran sebagai psikolog memerlukan gelar master atau doktor.
- Profesi psikolog sering dikaitkan dengan konseling.
- Psikolog dapat mengkhususkan diri dalam sejumlah bidang yang berbeda, sehingga karier sebagai psikolog berbagai macam, seperti psikolog medis, psikolog perilaku, psikolog pendidikan, psikolog kesehatan, psikolog forensik, psikolog sosial, dan banyak lagi.
- Sebuah pekerjaan sebagai psikolog mungkin melibatkan kegiatan mengamati pasien, mengembangkan pengobatan, konseling kelompok dan individu, administrasi tes psikologi, perencanaan program pendidikan, menulis laporan dan melakukan penelitian.
- Psikolog dan psikiater memiliki nama serupa dan keduanya bekerja untuk meringankan depresi dan stres mental, tetapi ada perbedaan penting. Psikiater merupakan dokter medis dan dapat memberikan resep obat sebagai bagian dari pengobatan mereka, sementara psikolog terutama menggunakan konseling untuk membantu pasien mereka. Mereka juga memiliki pelatihan yang berbeda dan latar belakang pendidikan.
2. Human Resource Departement
2. Human Resource Departement
Manajemen sumber daya manusia adalah
suatu proses menangani berbagai masalah pada ruang lingkup karyawan, pegawai,
buruh, manajer dan tenaga kerja lainnya untuk dapat menunjang aktifitas
organisasi atau perusahaan demi mencapai tujuan yang telah ditentukan. Bagian
atau unit yang biasanya mengurusi sdm adalah departemen sumber daya manusia
atau dalam bahasa inggris disebut HRD atau human resource department.
Menurut A.F. Stoner
manajemen sumber daya manusia adalah suatu prosedur yang berkelanjutan yang
bertujuan untuk memasok suatu organisasi atau perusahaan dengan orang-orang
yang tepat untuk ditempatkan pada posisi dan jabatan yang tepat pada saat
organisasi memerlukannya.
1. Merencanakan,
mengembangkan dan mengimplementasikan strategi di bidang pengelolaan dan
pengembangan SDM (termasuk perekrutan dan pemilihan kebijakan/ practices,
disiplin, keluhan, konseling, upah dan peryaratannya, kontrak-kontrak,
pelatihan dan pengembangan, perencanaan suksesi, moril dan motivasi, kultur dan
pengembangan sikap dan moral kerja, manajemen penimbangan prestasi dan hal
seputar manajemen mutu – dan lain-lain (ditambahakan selama masih relvean)
2. Menetapkan dan
memelihara sistem yang sesuai untuk mengukur aspek penting dari pengembangan
HR.
3. Memonitor, mengukur
dan melaporkan tentang permasalahan, peluang, rencana pengembangan yang
berhubungan dengan SDM dan pencapaiannya dalam skala waktu dan bentuk / format
yang sudah disepakati.
4. Mengelola dan
mengendalikan pembelanjaan SDM per departemen sesuai anggaran-anggaran yang disetujui.
5. Mengatur dan
mengembangkan staf langsung (yang melakukan direct report kepadanya).
6. Bertindak sebagai
penghubung (liaison) dengan para manajer functional / manajer department yang
lain agar memahami semua aspek-aspek penting dalam pengembangan SDM, dan untuk
memastikan mereka telah mendapatkan informasi yang tepat dan mencukupi tentang
sasaran, tujuan / obyektif dan pencapaian-pencapaian dari pengembangan SDM.
7. Memelihara
kesadaran dan pengetahuan tentang teori pengembangan HR yang sesuai zaman dan
metoda-metoda dan menyediakan penafsiran yang pantas untuk para direktur, para
manajer dan staf di dalam organisasi.
8. Berperan untuk
evaluasi dan pengembangan strategi pengelolaan SDM dan kinerja dalam
pengimplementasian strategi tersebut, dengan bekerja sama dengan tim eksekutif.
9. Memastikan setiap
aktivitas mempunyai benang merah serta terintegrasikan dengan
persyaratan-persyaratan organisasi (organizational requirements) untuk
bidang-bidang manajemen mutu, kesehatan dan keselamatan kerja, syarat-syarat
hukum, kebijakan-kebijakan dan tugas umum kepedulian lingkungan.
10. Jika merupakan
jabatan direktur formal, Melaksanakan tanggung-jawab dari seorang direktur
utama / Board of Director (BOD) menurut patokan-patokan etis dan hukum yang
berlaku, seperti yang tuangkan di dalam kebijakan direktur atau dokumen standar
(lain) yang biasa digunakan.
3. Guru pendamping ABK
Guru pendamping memegang peranan penting dalam membantu tidak
hanya pada perkembangan akademik tetapi juga non akademik, seperti :
perkembangan sosialisasi, komunikasi, perilaku, motorik dan perkembangan keterampilan hidup sehari-hari.
Guru pendamping dapat dimaknai sebagai orang dewasa yang
membantu dan mengarahkan anak berkebutuhan khusus (special needs children)
khususnya anak yang terdiagnosis ASD (Autism Spectrum Disorder), ADD / ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder, Dyspraxia
(Motor Planning Disorders), Dyslexia (Kesulitan Berbahasa dan Mengeja), Down syndrome (Penurunan
Kognitif dan Fisik) dan Underachiever (anak berbakat yang kurang
ditumbuh-kembangkan atas potensi yang dimilikinya), dalam hal akademik dan
non akademik di lembaga sekolah inklusif maupun sekolah reguler. Peran
guru pendamping diharapkan dapat melatih kemampuan yang dimiliki anak
berkebutuhan khusus (special needs children) untuk lebih optimal dan
fungsional.
Beberapa peranan guru pendamping menurut Skjorten dkk, dalam Pengantar Pendidikan Inklusif (2003) yaitu :
1.
Mendampingi guru kelas
dalam menyiapkan kegiatan yang berkaitan dengan materi belajar.
2.
Mendampingi anak
berkebutuhan khusus (special needs children) dalam menyelesaikan tugasnya
dengan pemberian instruksi yang singkat dan jelas.
3.
Memilih dan melibatkan
teman seumur untuk kegiatan sosialisasinya.
4.
Menyusun kegiatan yang
dapat dilakukan di dalam kelas maupun di luar kelas.
5.
Mempersiapkan anak
berkebutuhan khusus (special needs children) pada kondisi rutinitas yang
berubah positif.
6.
Menekankan
keberhasilan anak berkebutuhan khusus (special needs children) dan
pemberian reward yang sesuai dan pemberian konsekwensi terhadap perilaku yang
tidak sesuai.
7.
Meminimalisasi
kegagalan anak berkebutuhan khusus (special needs children)
8.
Memberikan pengajaran
yang menyenangkan kepada anak berkebutuhan khusus (special needs children)
9.
Menjalankan individual
program pembelajaran yang terindividualkan (PPI).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar